24 August 2007

ayahanda


seorang ayah..yang mengatur langkah menyusuri jalan ke medan pengajaran..melalui tepian laut,meredah samudera buas..demi mencari bekalan buat zuriat yang bersusun memanjang.


seorang ayah..yang memerah keringat membanting tangkai padi di sawah..di bawah sinar matahari dan kadang-kadang di dalam cahaya bulan..buat rezeki anak-anak di perantauan.


seorang ayah..yang sering menyusun tazkirah memberi kuliahdan pesan..supaya aku berusaha mengenal Tuhan.


seorang ayah..yang ku tarik dari beg kecilnya 20 sen setiap petang..buat membeli jajan kegemaran.


seorang ayah..kini hanya terbaring di hamparan..alas belakang yang bernilai 4 angka yang tak pernah diangan.


ayahku dahulu seorang pejuang di medan


ayahku kini menghabiskan sisa usia di perbaringan


ayahku hari ini..semoga penyudahnya di dalam kebaikan


Tuhanku..moga diperkenan!

19 August 2007

nak ketawa @ nak fikir dulu?

It is common to hear the expression 'ladies first'. Women, in particular, daily repeat it as if it is a rule. They actually feel proud of it, unknowing its origin and its real indications. They think it is praise to them, while it is a shame to be said according to its origin.

The story of this saying took place in Italy. It is about two lovers who loved each other so much. They decided to marry. But some social circumstances and relatives block the way of their marriage. They did not accept this and intentionally decided either to live together as husband and wife, or to die together.

Having done best to achieve the marriage, they got disappointed. Dying together was the only option. They thought about a number of ways to commit the suicide.

Throwing themselves into the sea was the appropriate way to them. The man sincerely said he would not bear the situation of seeing her drowning to death in front of his eyes. He convinced his beloved that he would throw himself first and then she would do so later.

In the rush moment, the man did it and drown. The lady was looking at him as if he was 'singing'. The man was dead. It was the lady's turn to follow him to live together underneath, as they decided. But she soon broke her promise, forgetting her sweetheart who was dying in front of her eyes and in heart as well.

She 'threw herself back to the village'. Yes! Her promise was to throw herself. And she did, but to the village instead of the sea.

She came back home, to her relatives as if nothing has happened. Few days later, she fell in love with another man. She was happy with him as if it was her first love. It did not take a lot of time till she got married to him.

Since then, people start doubting ladies and start repeating the saying 'ladies first', with the implication that ladies should throw themselves into the sea first, should die first, because they are not trustworthy.

It is really interesting when one hears a lady proudly says 'ladies first', thinking that she adds a privilege for being a female. Some people, men and women, take it as a social rule, unknowing its real indications.

This is not a personal point of view. It is not, moreover, a personal interpretation of the story. It is what many sources say and interpret the original story. So, women please forgive me for shedding light on this.

I do only a favor for women so that to be aware of when to say 'ladies first' and when not to say. For me, I don’t care if I hear a woman saying this. I way ignore or pretend deafness. But others may take it a matter of satire.

Having known this, women may reject this saying. They may claim that 'Ladies last' is better.

This saying has been common for several years. And men never reject it. Though the proverb has a negative implication on women, men do really accept it as it is, following it as a matter of respect to women whenever they come across.

See the difference, men do not feel teased whenever women shout for being 'the first', unknowing its real implications. But the case is taken differently by women when the verse happens.

In spite of this, men will not change their respect and intimacy to women. They will take women to be first when they positively look at 'ladies first'. And similarly, they will insist to make 'ladies last' when it is negative to put them at first. The problem, however, lies in women themselves who do not accept everything normally as it is.

Women claim to be first. They do not take it normally whether to be first or last. Men, on the other hand, accept women to be first not for the saying 'ladies first' but for the social respect of men towards women.

So it is only a matter of respect. It is not a rule, and it is better to be not a rule because it will be a negative aspect of women.

Spotlighting on this is not to provoke the matter between men and women. But it is to learn a lesson that both are 'first and both can be last'. There must be mutual acceptance and integration between the two sexes. So this is a call firstly for women, because of "ladies first", and secondly for men to look at the matter through the mind's eye.

##fikir..fikir..nak tergelak pulak..tak penah terfikir pasal ni..diambil dr yemen times

kenapa cuai sembahyang

tulisan ni ditaip semula,hasil temuan dalam buku teks lama matapelajaran 'As Sihah' di Madrasah Darul Taqwa (skrg Dar At Taqwa)..buku ni dijumpa dalam timbunan buku2 lama waktu kemas rumah..buat diri terkenang kenangan lama sekitar tahun 1992..dan jg Ustazah Rosmunainah Nur Asmuni,guru madah ni..

.......................................................................................................

wahai muslimin,wahai muslimat,
kenapa kamu cuai sembahyang,
tidak bersyukur segala ni'mat,
Allah Pengasih lagi Penyayang.

orang yang miskin juga hartawan,
kenapa kamu cuai sembahyang,
iman tipis,kurang amalan,
bercakap lantang berbuat kurang.

kepada semua ibu dan bapa,
kenapa kamu cuai sembahyang,
maksiat berlaku kata tak apa,
radio bergema TV dipasang.

guru sekolah,guru madrasah,
kenapa kamu cuai sembahyang,
anak murid berakhlaq rendah,
pakai baju aurat membayang.

kaum remaja lelaki perempuan,
kenapa kamu cuai sembahyang,
apa lagi membaca Quran,
seronok lakukan kerja terlarang.

anak-anak yang dikasihi,
kenapa kamu cuai sembahyang,
perbuatanmu selalu dimarahi,
itulah tanda kamu disayang.

wahai manusia seluruh alam,
janganlah kita cuai sembahyang,
hidup selamat sampaikan salam,
Rasul penyuluh jalan yang terang.

ibu bapa bersemangat waja,
suruhlah anakmu kerjakan sembahyang,
Allah Raja segala raja,
hancurkan taghut terus berjuang.

berbahagialah tilmiz wa tilmizat,
janganlah kamu tinggalkan sembahyang,
kamu kan jadi pemimpin ummat,
melaungkan azan takbir berkumandang.

16 August 2007

ihtisab

bagaimana perjalanan hidup seharian?setiap detik dari 24 jam yang dilalui itu,adakah diisi dengan kerja-kerja yang mendekatkan diri kepadaNya?

mencelik mata di pagi hari,apa yang pertama diingati??
1) terima kasih ya Allah..mengembalikan nyawaku
2) bestnyee mimpi tadi..nape la terkejut awal sangat?
3) eisshh..dah lewat niii..hari ni nak kena sampai awal..ada banyak keje..

melangkahkan kaki ke bilik air..memakai pakaian..mengisi perut dengan hidangan yang menyelerakan..apa yang dihitungkan?apa yang diingatkan?

menghitung pahala dalam setiap gerak geri di sepanjang hari..banyakkah pahala yang dikumpul?atau cuma titik-titik hitam di hati yang mampu dihimpun?

ihtisab ajr..menghitung pahala di sepanjang hari..barulah dapat diketahui,sudah berisikah kantung pahala buat bekalan nanti..

13 August 2007

cahaya yang tersinar

MengingatiNya di kala senang dan susah.
MengingatiNya saat berdiri dan duduk.
MengingatiNya tika tertawa dan menangis.

Tidak dijadikan semua yang ada di langit dan di bumi ini dengan sia-sia.
Langit tak bertiang
Awan tak bertali
Bukit yang terpacak memaku bumi
Air mengalir yang menjadi sumber meneruskan hidup

Pada siapa rasa syukur ini?
Pada siapa segala pujian ini?
Pada siapa dipohonkan agar nikmat ini berkekalan?

Bila siang menjenguk diri
Hidup dilalui penuh bererti
Menjalankan amanah tanggungjawab diberi
Menjadikan diri mukmin sejati

Pada jasad teliti dilempar
Hujung rambut yang berakar
Hujung kaki yang terdampar
Telah disedari, itu hasil seorang pakar

Menembusi pintu meneruskan hari
Memerhati daun-daun jatuh dibelai bayu
Menikmati haruman bunga pagi
Telah hadir insaf di hatiku

Pada siapa lagi rasa takzim ini?
Pada siapa lagi segala penghormatan ini?
Pda siapa dipinta agar diri tidak dikecualikan dari golongan yang sedikit?

“dan sedikit sahaja dari kalangan hambaKu orang-orang yang bersyukur”